Showing posts with label banjir. Show all posts
Showing posts with label banjir. Show all posts

Monday, 30 June 2014

Kementerian PU Akui Sulit Menormalisasi Kali Ciliwung


Kementerian PU Akui Sulit Menormalisasi Kali Ciliwung
Selasa, 14 Januari 2014 12:27 WIB


Tribun Jakarta/JEPRIMA

Seorang siswa sekolah dasar (SD) bermain banjir-banjiran setelah sekolahnya terendam banjir akibat meluapnya Kali Ciliwung di jalan Abdullah Syafei Kali Ciliwung, Kampung Melayu, Jakarta Selatan, Senin (13/1/2014). Hujan yang mengguyur Jakarta dan Sekitarnya sejak kemarin mengakibatkan sejumlah ruas jalan dan perkampungan terendam banjir. (Tribunnews/Jeprima)


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Proses pembebasan lahan, kerap menjadi kendala dalam pembangunan infrastruktur publik di berbagai daerah Indonesia.

Tak terkecuali saat proyek normalisasi Kali Ciliwung, DKI Jakarta, dicanangkan.

Untuk menyiasati situasi tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah mengidentifikasi potensi normalisasi yang tidak memerlukan pembebasan lahan milik masyarakat.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWS Cilicis) T Iskandar mengungkapkan, membutuhkan 5 kilometer yang masuk lahan warga untuk menyelesaikan 19 km normalisasi Kali Ciliwung.

"Di antaranya ada sepanjang 2,5 km yang berlokasi di Condet (Jakarta Timur), tepatnya daerah Rindam Jaya. Kami sudah diijinkan untuk mulai bekerja. Persiapan juga sudah dilakukan, tapi lahannya sulit dibebaskan," kata Iskandar, saat rapat dengan Menteri PU Djoko Kirmanto, Selasa (14/1/2014).

Ia menjelaskan, normalisasi Ciliwung yang terbagi menjadi empat paket pekerjaan, membutuhkan pembebasan lahan seluas 65 hektare.

Paket pertama yaitu normalisasi mulai dari Jembatan Casablanka-Kampung Melayu, memerlukan pembebasan tanah 18 ha.

Sedangkan Paket 2 (Kampung Melayu-Jembatan Kalibata) dan Paket 3 (Jembatan Kalibata-Eretan Condet) membutuhkan masing-masing 16 ha serta Paket IV (Eretan Condet-TB. Simatupang) butuh 15 ha.

Normalisasi akan dirampungkan hingga 2016, dengan total dana penanganan senilai Rp1,18 triliun.

Setelah normalisasi, kapasitas alir Kali Ciliwung akan meningkat 570 meter kubik per detik dibanding kapasitas debit aliran saat ini yang hanya 180 meter kubik per detik

http://www.tribunnews.com/metropolitan/2014/01/14/kementerian-pu-akui-sulit-menormalisasi-kali-ciliwung

Kementerian PU akan Bangun dua Waduk Atasi Banjir Jakarta


Kementerian PU akan Bangun dua Waduk Atasi Banjir Jakarta
Senin, 20 Januari 2014 14:46 WIB


Warta Kota/Alex Suban

Wisatawan lokal melihat tinggi air di Bendung Katulampa, Bogor, Sabtu (18/1/2014) siang. Saat itu tinggi permukaan air di bendung ini berada di 100 sentimeter atau siaga III. Debit air berkurang dari malam sebelumnya yang mencapai 180 sentimeter atau siaga II.. (Warta Kota/alex suban)



TRIBUNNEWS.COM, BOGOR - Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Mohamad Hasan mengatakan, pihaknya akan membangun dua waduk di kawasan Jawa Barat dalam rangka serangkaian antisipasi banjir Jakarta.

"Untuk mempercepat upaya banjir yang sedang berjalan, kami akan bangun dua waduk baru di hulu Ciliwung, yaitu Sukamahi dan Ciawi," ujar Mohamad usai rapat di kantor Pemantauan Bendung Katulampa, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (20/1/2014).

Mohamad menjelaskan, pembangunan dua waduk di hulu Kali Ciliwungtersebut akan dilaksanakan pada awal Tahun 2015. Rencananya akan menggunakan anggaran dari APBN.

"Sejauh disetujui oleh DPRD DKI, akan ditanggung oleh Pemprov DKI," kata Mohamad.

Selain itu, Mohamad melanjutkan, pihaknya juga akan mengerjakan perbaikan di situ-situ yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. Pihaknya juga akan menerbitkan Peraturan Menteri PU dengan memberikan kewenangan kepada Kabupaten/Kota.

"Berikutnya, kami akan membuat sodetan dengan membuat terowongan sepanjang 1,2 kilometer, dengan debit air 200 m3/detik," kata Mohamad.
http://www.tribunnews.com/metropolitan/2014/01/20/kementerian-pu-akan-bangun-dua-waduk-atasi-banjir-jakarta

Thursday, 5 June 2014

Normalisasi kali dan waduk di Jakarta









NORMALISASI WADUK




Normalisasi Waduk Pluit Mulai Membuahkan Hasil






















Normalisasi Waduk Ria Rio Kelar, Pulomas Bebas Banjir 2016






















5 Proyek Besar yang di Yakini Bisa Mengurangi Banjir di Jakarta









Normalisasi Waduk Melati Ditargetkan Selesai 2015




Normalisasi Waduk Ria Rio Jakarta Timur




Situasi Waduk Pluit sebelum dan sesudah normalisasi




· Jokowi Ingin Normalisasi Kali Sunter Selesai Tepat Waktu







· Jokowi Tinjau Normalisasi Kali Pakin - Stafa Band










· Video Jokowi Tinjau Normalisasi Kali Pakin - Stafa Band



· Normalisasi Kali Ciliwung ditargetkan selesai 2016 ...



· Normalisasi Kali Sentiong Sisi Timur Dilanjutkan - Berita ...




Normalisasi Kali Sunter Ditargetkan Rampung 15 Desember


Jokowi Target Tanggul Kali Sekretaris Selesai 2013 ...


Jokowi Memerintahkan Normalisasi Sungai Pakin Dikebut ...
► 2:30► 2:30
www.youtube.com/watch?v=cJrj4tz2sO8


Normalisasi Sungai Besar Jakarta Sudah 40 Persen | -metro ...
► 0:30► 0:30
www.tempo.co/.../Normalisasi-Sungai-Besar-Jakarta...

Next: Kementerian PU Target Sudetan Ciliwung Selesai 2015
beritadaerah.com/.../kementerian-pu-target-sudetan-ciliwung-selesai-201...


PEMBUATAN WADUK


detikNews : Ini Proyek Pembuatan Waduk Cilangkap yang ...




Jokowi Resmikan Pembangunan Waduk Rawa Kendal ...




► 2:02► 2:02




www.youtube.com/watch?v=rUXmVPaNUKg




Hari ini, Jokowi resmikan pembangunan Waduk Marunda ...




www.merdeka.com › JAKARTA





Jokowi Resmikan Pembangunan Waduk Giri Kencana ...




NORMALISASI KALI



Ahok Klaim 2014 Titik Banjir Menurun




Kementerian PU Sedang Normalisasi 4 Kali Besar di Jakarta







Jokowi Kebut Normalisasi 13 Kali Jakarta Jelang Pilpres





Jokowi Tandatangani MoU Normalisasi Kali Sunter

Kurangi Banjir DKI: Perluas Parkir Air, Kurangi Bangunan di Pantai
Nograhany Widhi K - detikfinance
Rabu, 15/01/2014 16:03 WIB


Halaman 1 dari 2


(Ilustrasi dari artikel 'Bisakah Banjir Jakarta Dikurangi?'/lipi.go.id)
Jakarta -Struktur bawah permukaan Jakarta, menurut pakar hidrologi, sebagian besar adalah wilayah pelepasan air tanah (discharge area) sebanyak 75 persen, dan sisanya daerah resapan air yang kini menjadi tempat bangunan di atasnya. Lantas, bagaimana cara mengurangi banjir di Jakarta?

Adalah pakar hidrologi dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Dr Ir Robert M Delinom MSc yang memaparkan kondisi struktur bawah permukaan Jakarta dalam artikel ilmiahnya 'Bisakah Banjir Jakarta Dikurangi?' yang dikutip detikcom dari situs lipi.go.id, Rabu (15/1/2014).

"Dari analisis kondisi geologi Cekungan Jakarta yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Bandung, kondisi geologi di selatan Jakarta ikut berperan sebagai penyebab banjir," demikian tulisnya.

Ada yang namanya Formasi Bojongmanik di bawah muka tanah yang menyebar dari Serpong sampai Cibinong. (Formasi Bojongmanik adalah struktur geologi yang batuannya terdiri dari perselingan antara batu pasir dan lempung pasiran, batu gamping, batu pasir tufaan, konglomerat dan breksi andesit, red)

Formasi Bojongmanik ini bertindak sebagai dam atau bendungan bagi air tanah yang mengalir dari daerah tinggian di selatan Jakarta. Nah, air dari dam air tanah itu akan keluar ke permukaan sepanjang Serpong-Cibinong, menambah pasokan air permukaan yang mengalir ke hilir, Jakarta dan sekitarnya.

"Dalam kondisi jenuh air, hampir semua air hujan yang turun di bagian hulu akan menjadi air permukaan yang lari kemana-mana karena kapasitas sungai dan drainase yang ada sudah tak mencukupi. Banjir, lah. Istilahnya sekarang, air menggenang di mana-mana," demikian papar Robert.

Dari analisis temperatur bawah permukaan dan isotop stabil, para peneliti menyimpulkan bahwa dataran Jakarta hampir 75 persennya daerah pengeluaran air (discharge area). Jadi air memang lebih cenderung mengalir di permukaan daripada pada meresap masuk. Sementara daerah yang tadinya berperan sebagai daerah resapan air (recharge area), sekitar 25 persen dari luas Jakarta, sudah berubah menjadi kompleks bangunan yang kapasitas meresapkan air menjadi sangat sedikit. Next


"Jadi meskipun tidak ada kiriman dari Puncak dan Bogor, di Jakarta bila ada hujan cenderung akan terjadi banyak genangan di daerah-daerah yang lebih rendah. Karena endapan di Jakarta adalah endapan delta yang didominasi endapan sungai dan endapan pantai," tutur Robert.

Di daerah ini aliran air kadang tak terduga dan kecenderungan tanah ambles juga tinggi. Endapan delta biasanya unconsolidated ditambah ekploitasi air tanah yang berlebihan, bangunan yang sangat masif dan berat, semua akan memicu terjadinya amblesan yang akan menambah dalam daerah genangan.

Cara Kurangi Banjir

Jadi bila kondisi bawah tanah Jakarta adalah daerah pelepasan air, bagaimana cara mengurangi banjir di Jakarta? Robert memberikan beberapa saran yakni:

1. Memaksimalkan fungsi kedua kanal banjir (Kanal Banjir Barat dan Kanal Banjir Timur).
2. Memperdalam dalam dasar 13 sungai yang mengalir melintasi Jakarta.
3. Perbaikan drainase di tepi jalan-jalan raya.
4. Memperluas dan memperdalam daerah yang bisa dipakai air untuk parkir, dengan perbaikan kondisi sungai, pembuatan kanal atau saluran drainase yang lebih banyak.
5. Mengurangi pembangunan resort di tepi pantai, karena tanpa disadari daerah yang dipenuhi oleh bangunan di tepi pantai secara tidak sengaja bertindak sebagai penghalang air untuk mengalir lepas ke laut dan menyebabkan banjir beberapa saat di daerah yang terletak di belakangnya.

http://finance.detik.com/read/2014/01/15/160300/2467913/10/2/kurangi-banjir-dki-perluas-parkir-air-kurangi-bangunan-di-pantai

Penyebab Bencana Alam Banjir Kota Jakarta secara Sains


Penyebab Bencana Alam Banjir Kota Jakarta secara Sains
Saturday, 12 April 2014 09:00




Jakarta. Ibu kota sekaligus kota metropolitan paling besar di Indonesia ini selain identik dengan kehidupan gemerlap dan hedonisme kota besar, macet, dan beragam masalah sosial lain, juga selalu dibayangi dengan bencana alam banjir yang seakan menjadi langganan. Sebenarnya apa sih penyebab banjir di Jakarta yang selama bertahun-tahun menjadi langganan ini?

Ibu kota kembali terendam. Pada tahun ini sebanyak 23 kelurahan di Jakarta tercatat terandam bencana alam banjir. Air dengan lumpur dan sampah terlihat menggenangi jalan-jalan utama, serta rumah dan perkampungan warga. Akibatnya bukan hanya kemacetan panjang sejak pagi tadi dan membuat aktivitas Ibu Kota terhambat, namun jumlah warga di pengungsian semakin bertambah. Kali ini, apa penyebab banjir setelah sempat surut beberapa waktu lalu? Apakah banjir kiriman seperti sebelumnya, atau akibat hulu sungai yang tak mampu menampung kapasitas air hujan?

Pertanyaan diatas yang juga menjadi tanda tanya bagi warga Jakarta, coba dijawab oleh Pakar hidrologi dari Universitas Indonesia, Firdaus Ali yang mengatakan "banjir kali ini dipicu oleh hujan lokal." Diungkap oleh Ali, penyataanya bahwa penyebab bencana alam banjir di Jakarta hari ini karena hujan lokal dapat dilihat dari perbandingan intensitas hujan di hulu dan hilir serta status pintu air. "Curah hujan di hulu tidak besar. Katulampa saja siaga 4. Jadi ini memang hujan lokal," tegas Ali saat seperti disadur dari Kompas.com.

Dan memang, melihat dari data yang dikumpulkan oleh Badan meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, area Jabodetabek menunjukan angka curah hujan yang cukup tinggi pada Selasa (28/1/2014) kemarin Beberapa warga Ibu Kota pun sebenarnya telah cukup waspada pada hujan yang mengguyur deras sejak Selasa malam. Terlihat di beberapa lokasi yang berdekatan dengan kali atau sungai, warga mulai membuat barikade sederhana untuk menahan air yang siap meluap. Namun hal tersebut rupanya sia-sia bila melihat bencana alam banjir tetap saja menggenangi rumah-rumah serta jalanan Jakarta.

Tercatat dalam Badan meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, wilayah Jakarta dengan curah hujan tertinggi adalah Kedoya (135 mm), Halim Perdana Kusuma (120,8), Manggarai (117,8), dan Pasar Minggu (108,5). Dan untungnya di wilayah hulu seperti Curug (38 mm) dan Citayam (42mm) curah intensitas hujan termasuk rendah hingga tak terjadi bencana alam banjir besar seperti minggu lalu. Badan meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG merilis keterangan dalam situs laman resminya pagi tadi bahwa penyebab hujan lokal sangat lebat yang terjadi pada Selasa malam ialah adanya pumpunan awan di wilayah sebelah barat Sumatera. Hujan lokal sangat deras, namun berlangsung tak lama. Walau begitu tetap saja banjir kembali menggenangi Jakarta pagi tadi. Ini menunjukan buruknya kondisi resapan di Jakarta akibat pola pembangunan yang tak sesuai, ditambah dengan sistem drainase dan juga kondisi sungai dan waduk. Hal ini menjadikan banjir di Kota Jakarta pada tahun ini menjadi banjir terbesar sepanjang sejarah. Padahal pemerintah Kota Jakarta telah melakukan perombakan besar-besaran pada waduk dan sistem drainase yang ada di Jakarta, walaupun belum sepenuhnya selesai.

Diungkap pula oleh Firdaus, walau bencana alam banjir kali ini disebabkan oleh hujan lokal yang lebat di beberapa daerah Jakarta, namun tak dapat dipungkiri bahwa salah satu faktor paling kuat penyebab banjir ialah terbatasnya ruang hijau. Kini Jakarta hanya memiliki 9,8 persen area hijau, dan dijamin tak akan mampu menjadi area penyerapan air yang maksimal. Konsekuensinya ketika hujan lokal dengan intensitas tinggi terjadi, maka air akan meluap ke permukaan.

Mengandalkan waduk, sungai, dan drainase untuk menampung serta mengalirkan air pun bukan solusi yang maksimal, pasalnya kondisinya sangat jauh dari ideal. Sebagai contoh, lebar Ciliwung kini jauh berkurang. Di beberapa wilayah lebarnya menyempit hingga hanya 7 meter. Melihat hal itu, kata Firdaus, penanggulangan bencana alam banjir harus dilakukan dengan memperbaiki drainase dan mengembalikan fungsi sungai dan waduk serta menambah wilayah resapan air. Kota Jakarta memang harus terus memperbaiki sistem drainase kota untuk mencegah bencana alam banjir yang akan terus terjadi tiap tahunnya. Disamping itu pemerintah juga harus memperhitungkan banjir maksimal yang bisa terjadi. [HMD]

http://m.portal.paseban.com/?mod=content&act=read&id=150481

Penyebab Banjir di Jakarta: Dari Sampah Hingga Penurunan Tanah


Penyebab Banjir di Jakarta: Dari Sampah Hingga Penurunan Tanah
Kamis, 23 Januari 2014 19:16 WIB


KOMPAS/AGUS SUSANTO

Laporan Wartawan Tribunnews.com, M Zulfikar

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Awal tahun 2014 Jakarta kembali dikepung banjir. Peristiwa serupa juga terjadi pada awal 2013 lalu, bahkan banjir tersebut menggenangi kawasan Bundaran HI bahkan sampai ke Istana Negara.

Rahmat Fajar Lubis, Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI menyatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan Ibu Kota dilanda banjir. "Faktor yang pertama adalah kapasitas sungai dan saluran yang ada di Jakarta tidak mampu untuk menampung air," kata Rahmat di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis (23/1/2014).

Rahmat menuturkan, tidak mampunya sungai dan saluran untuk menampung air dikarenakan oleh curah hujan yang tinggi, penyumbatan sampah dan pendangkalan akibat sedimentasi dari wilayah hulu.

Faktor lain yang menyebabkan banjir di Jakarta kata Rahmat adalah kondisi alami geologi. Menurutnya, Jakarta merupakan termasuk wilayah dataran banjir.

"Bencana geologi seperti penurunan tanah juga jadi penyebab Jakarta menjadi langganan banjir," tuturnya.

Lebih lanjut Rahmat mengatakan, kondisi masyarkat Jakarta saat ini juga belum peduli akan bahaya banjir. Menurutnya, aktifitas sosial budaya masyarakat urban belum tercipta dalam mewujudkan kewaspadaan akan bencana banjir

Ini 4 Penyebab Banjir Jakarta


Ini 4 Penyebab Banjir Jakarta
Selasa, 22 Januari 2013 | 10:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Masalah banjir belum juga terselesaikan di Ibu Kota. Jakarta terendam banjir pada babak awal memasuki tahun 2013. Banjir cukup merata di seluruh wilayah Jakarta. Sejumlah akses jalan terputus. Air setinggi 20 hingga beberapa meter menggenangi jalanan Ibu Kota. Banjir pun tak pilih-pilih lokasi, mulai dari perkampungan hingga Kompleks Istana Kepresidenan kebanjiran.

Curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir membuat volume air bertambah. Sungai dan waduk meluap. Tanggul pun jebol karena tak mampu menahan banyaknya air. Namun, banjir seharusnya tak terjadi hanya karena intensitas hujan yang tinggi itu. Mengapa banjir terus terjadi dan makin meluas di Ibu Kota?

Pengamat tata kota, Nirwono Joga, mengatakan, sejumlah faktor turut menyebabkan banjir Jakarta 2013. Secara umum, telah terjadi perubahan besar pada tata ruang di Jakarta dan kota sekitarnya, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Faktor pertama, berubahnya ruang terbuka hijau di Jakarta menjadi kawasan pembangunan, seperti permukiman, gedung, dan jalan. Resapan air hujan menjadi berkurang dan akhirnya air mengalir ke jalanan.

"Sebagian besar banjir yang terjadi di Jakarta ini terjadi di daerah-daerah tanggapan air, resapan air, yang dulu sejak zaman Belanda memang diperuntukkan untuk ruang hijau," ujarnya di Jakarta, Selasa (22/1/2013).

Joga mengatakan, pemerintah harus tegas membatasi pembangunan komersial di Jakarta. Pendirian bangunan pun harus dicek kembali apakah telah menyediakan sebanyak 30 persen sumber resapan sesuai ketentuan undang-undang.

Kedua, sistem drainase yang buruk di Jakarta. Menurut Joga, seharusnya saluran air berujung ke sungai atau laut, melainkan ke daerah resapan atau ke dalam tanah. Pemerintah harus melakukan revitalisasi terhadap sistem drainase di seluruh Jakarta dan jalan-jalan protokol seperti Sarinah, Thamrin, Sudirman, dan lainnya. Pemerintah juga perlu membuat sistem drainase eco-drainase yang mengalirkan air ke sumber resapan.

Ketiga, tidak optimalnya fungsi waduk maupun situ. Dalam catatannya, pada tahun 1990-an, Jakarta memiliki 70 waduk dan 50 situ. Namun, kini hanya tersisa 42 waduk dan 16 situ. Sebanyak 50 persen di antaranya pun tidak berjalan optimal. Waduk-waduk di Jakarta dipenuhi tumbuhan enceng gondok, limbah, dan sampah. Pendangkalan pun terjadi akibat sedimentasi lumpur. Waduk yang akhirnya mengering kemudian dijadikan daerah hunian.

"Untuk meningkatkan kapasitas optimalisasi, tentu perlu dilakukan revitalisasi pengerukan dan penataan. Kalau optimal, waduk bisa menjadi cadangan air bersih," terangnya.

Keempat, belum dilakukannya normalisasi di semua sungai. Menurut pengamat dari Universitas Trisakti ini, pemerintah harus melakukan normalisasi kali sekaligus merelokasi permukiman di bantaran sungai ke tempat yang layak huni.

"Kita harapkan 5 tahun ke depan sungai sudah selesai dinormalisasi yang lebarnya saat ini 20-30 meter menjadi 100 meter," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, pasang air laut dalam beberapa hari ke depan diprediksi tinggi. Pada Senin (21/1/2013), pasang akan memuncak hingga ketinggian 0,95 meter. Pada Sabtu (26/1/2013), pasang bisa mencapai 1 meter. Sementara pada Minggu depan, pasang bisa mencapai 0,95 meter.

Untuk diketahui, pada 2007, curah hujan yang mengguyur Jakarta mencapai 320 milimeter. Curah hujan di Jakarta belakangan ini sekitar 95 milimeter dan di wilayah hulu (Puncak, Bogor) sekitar 75 milimeter. Intensitas hujan di Jakarta saat ini sedang menurun. Namun, pada akhir Januari atau awal Februari, diprediksi curah hujan menjadi dua kali lipat.

Untuk itu, solusi masalah banjir Jakarta, tambah Joga, tidak hanya dengan melakukan rekayasa teknis seperti membuat sodetan dan gorong-gorong raksasa. Rekayasa sosial atau mengubah pola pikir masyarakat, menurutnya, lebih penting dilakukan. Pemerintah dan masyarakat harus sadar pentingnya ruang terbuka hijau, mengerti bahwa bantaran sungai bukanlah lokasi hunian. Sadar dengan tidak membuang sampah sembarangan. Rekayasa teknis tidak akan menyelesaikan masalah banjir tanpa adanya kesadaran masyarakat itu sendiri

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/01/22/1053289/Ini.4.Penyebab.Banjir.Jakarta

5 Faktor Penyebab Banjir


5 Faktor Penyebab Banjir

Deny Iskandar Kabar Nasional January 24, 2014

Hujan deras yang terjadi di ibukota dalam dua pekan terakhir memang membuat sejumlah daerah diJakarta terendam banjir. Meski sudah dianggap sebagai musibah tahunan, namun belum ditemukan solusi yang tepat untuk mengatasi banjir. Permasalahan ini pun seperti dibiarkan berlarut-larut dan sudah berlangsung sejak lama.

Beberapa pengamat lingkungan menilai, banjir bisa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

Debit air di hulu yang ekstrem

Tinggi muka air di bendungan Katulampa, Jawa Barat sudah mencapai 180 cm. Tentunya kondisi ini mendorong air kiriman ke ibukota meningkat hingga volume 300.000 meter kubik per detik. Sedangkan daya tampug sungai utama dan saluran penghubung tidak sebanding dengan besarnya air kiriman tersebut.

Penurunan kapasitas sungai dan saluran penghubung

Kali Ciliwung sebagai salah satu saluran utama yang seharusnya mempunyai lebar 50 meter saat ini hanya tinggal sekitar 20 meter. Sungai Pasanggrahan, jika airnya meluap, juga akan merendam wilayah disekitarnya. Selain itu 70 persen dari fungsi drainase dan saluran penghubung juga mengalami kerusakan.

Rob atau laut pasang

Kondisi dimana air laut naik ke permukaan akan menahan air yang datang dari hulu, sehingga arus air yang semestinya lancar justru tertahan rob dan menjadikan Jakarta terendam banjir. Beberapa daerah yang rentan terendam rob dan banjir adalah Muara Angke, Cilincing dan Marunda.

Penurunan tanah

Penyedotan air tanah membuat penurunannya menjadi lambat. Kondisi ini memicu terjadinya pendangkalan sungai sehingga endapan kasar di tengahnya akan berpengaruh pada kinerja drainase yang kecil dan dipenuhi sampah.


Rusaknya lingkungan dan tata kota

Perubahan fungsi ruang dimana lahan yang seharusnya menjadi daerah resapan justru dibangun untuk kawasan komersil menjadi penyebab utama banjir. Kesalahan tata ruang, lingkungan dan bangunan serta kurangnya ruang terbuka hijau (RTH ) membuat kawasan penyerapan air di Jakarta semakin berkurang.

Dengan berbagai faktor penyebab banjir di Jakarta dan kota besar tersebut, pemerintah dapat mengambil tindakan dari solusi terbaik berdasarkan hasil musyawarah mufakat yang berwenang.

http://www.kabdet.com/read/2014/01/24/5-faktor-penyebab-banjir-1438

Friday, 16 May 2014

Jokowi Yakin Sodetan Kali Ciliwung Rampung Tahun Depan


Jokowi Yakin Sodetan Kali Ciliwung Rampung Tahun Depan
PERISTIWA · 09 Mei 2014 14:54



Liputan6.com, Jakarta Proyek pengerjaan sodetan Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur (KBT) mulai dikerjakan. Imbas dari pengerjaan itu, Jalan Otista 3, Jakarta Timur, ditutup sementara mulai Sabtu 10 Mei hingga 10 Agustus 2014.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo meyakini proyek yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) itu bisa dirampungkan segera. "Pembangunan fisiknya sudah dimulai, Jalan Otista sudah ditutup. Kita yakin tahun depan itu sudah rampung," ujar sang gubernur yang karib disapa Jokowi di Balaikota DKI Jakarta, Jumat, (9/5/2014).

Sodetan berupa kanal sepanjang 1,27 kilometer ini bila selesai dibangun akan mengalirkan sebagian debit air Ciliwung yang kerap meluap ketika mendapat kiriman hulu di musim hujan ke Kanal Banjir Timur (KBT).

Untuk pengerjaan fisiknya, sebagai bagian awal, pembuatan arriving shaft berada di RW 02 Cipinang Cempedak. Arriving shaft menjadi pertemuan untuk pengeboran bagian inlet di Jalan Otista Raya dan outlet di Jalan DI Panjaitan.

Kedalaman inlet di Jl Otista Raya sedalam 12 meter dan outlet 14 meter. Fungsinya mengalirkan air ke Kali Cipinang kemudian dilanjutkan ke BKT untuk dibuang ke laut. Sedangkan untuk lebar pipa dalam sodetan yaitu sepanjang 4 meter untuk pipa luar dan pipa dalam 3,5 meter. Kontraktor pembangunan sodetan PT Wijaya Karya (Wika) menargetkan pembangunan tersebut dapat rampung dalam waktu 4 bulan.

Pembuatan sodetan ini diharapkan dapat membantu mengatasi banjir di kawasan Kampung Melayu dan sekitarnya. Diharapkan dengan adanya sodetan ini, debit air Kali Ciliwung dapat dialihkan ke KBT.

Terkait dengan pengalihan jalur pascapenutupan Jalan Otista, Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur Benhard Hutajulu mengatakan, sebagai antispasi pengalihan arus lalu lintas pun mulai diberlakukan sejak besok pagi atau Sabtu pukul 07.00 WIB. Sejumlah jalan pun sudah disiapkan agar pengendara tetap dapat berjalan.

"Masyarakat bisa memilih jalur alternatif lain. Jalur alternatif banyak, bisa melalui Jalan Kebon Nanas Utara dan juga Selatan," ujar Benhard, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, sosialisasi terkait penutupan jalan untuk sementara juga sudah dilakukan. Sosialisasi dilakukan dengan memasang papan pengumuman di sekitar jalan yang menuju Jalan Otista 3. "Kami juga siapkan 10 petugas di ujung jalan itu untuk membantu masyarakat dalam mencari jalan alternatif," imbuh Benhard. (Sss)

Credits: Anri Syaiful

Wednesday, 14 May 2014

Berubah! Ini 3 Waduk di Jakarta dari Kumuh Jadi Cantik


Berubah! Ini 3 Waduk di Jakarta dari Kumuh Jadi Cantik



Normalisasi waduk di Jakarta terus berjalan sebagai bagian dari penanganan bencana ekologis banjir. Beberapa waduk tampak sudah beralih rupa jadi cantik dan siap menjadi penampung air. Ini 3 di antaranya.



1. Waduk PluitBantaran Waduk Pluit yang dulu penuh dengan rumah bedeng ilegal dan kumuh kini berubah. Warga kini dapat menikmati bantaran waduk yang sudah berubah menjadi taman yang cantik, yang menurut pengunjung mirip seperti di Amsterdam.

Dalam foto di atas, bagian atas adalah penampakan bantaran Waduk Pluit dari udara yang diambil fotografer detikcom, Agung Pambudhy, pada 17 Mei 2013 lalu. Bantaran dipenuhi hunian bedeng ilegal hingga menutup sebagian permukaan danau.

Pemprov DKI mencanangkan normalisasi Waduk Pluit sejak Februari 2013. Normalisasi itu bertujuan untuk mengembalikan fungsi waduk sebagai pengendali banjir dan resapan air.

Dan foto di bagian bawah, adalah penampakan bantaran Waduk Pluit, yang diambil fotografer Agung Pambudhy pada 30 April 2014 lalu. Ada papan nama yang menunjukkan bahwa bantaran waduk kini menjadi 'Taman Waduk Pluit'. Setiap hari warga bersantai sambil menikmati matahari tenggelam di area ini.



2. Waduk Sunter Selatan
Gambar di atas adalah penampakan Waduk Sunter Selatan yang diambil oleh fotografer detikcom, Grandyos Zafna, setelah dibersihkan pada Senin, 12 Mei 2014 lalu. Permukaan danau tampak tenang dan bersih. Waduk itu sudah menjalani proses normalisasi yang sudah selesai.

Bandingkan dengan gambar di bawahnya, yang diambil oleh fotografer yang sama pada Juli 2013. Waduk Sunter Selatan tampak menjadi 'lautan' enceng gondok.



3. Waduk Ria Rio
Waduk Ria Rio di kawasan Pulomas, Jakarta Timur, ini memiliki luas 25 hektar. Sebelumnya, sekitar 5 hektar diduduki hunian ilegal oleh warga. Selain itu, waduk itu 'dijajah' oleh enceng gondok yang tumbuh liar. Gambar di bagian atas diambil oleh fotografer Grandyos Zafna, pada 22 Agustus 2013 lalu saat normalisasi mulai berjalan.

Saat itu pula, Pemprov DKI sudah berhasil merelokasi sekitar 350 KK yang menghuni secara liar di Waduk Ria Rio ke Rusun Pinus Elok dan Cakung Barat plus uang kompensasi Rp 1 juta, setelah 4 kali sosialisasi.

Gambar di bawah adalah Waduk Ria Rio yang sudah selesai normalisasi yang diambil oleh fotografer yang sama pada 13 Mei 2014. Selain membersihkan air waduk yang penuh enceng gondok, bantarannya juga dibuat taman. Banyak rumput-rumput taman, dan beberapa tanaman hias seperti lidah mertua, heliconia dan beberapa pohon lain tampak masih disangga kayu karena baru ditanam. Ada tiga jenis pohon utama untuk membangun 'hutan' Ria Rio ini, yakni trembesi, mahoni, dan flamboyan. detik.com

http://forum.tribunnews.com/showthread.php?7359917-Berubah%21-Ini-3-Waduk-di-Jakarta-dari-Kumuh-Jadi-Cantik#.U3Mn1JfyaFA.twitter

Friday, 25 April 2014

Jokowi: Waduk Brigif Akan Kurangi Banjir di Petogogan


Jokowi: Waduk Brigif Akan Kurangi Banjir di Petogogan
Kamis, 24 April 2014 14:59 WIB


Imanuel Nicolas Manafe/Tribunnews.com

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo siang ini, Kamis (24/4/2014) memantau proses pembangunan waduk Brigif di Jalan Aselih, Kelurahan Cipedak, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengungkapkan, pembangunan waduk Brigif di Jalan Aselih, Kelurahan Cipedak, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatanmemberikan efek positif bagi wilayah-wilayah yang ada di Jakarta Selatan.

"Waduk Brigif ini akan mengurangi genangan dan banjir di Jakarta Selatan," ujar Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi usai memantau waduk Brigif, Kamis (24/4/2014).

Jokowi yang juga sebagai bakal calon presiden dari PDI Perjuangan ini mengungkapkan, waduk Brigif akan mengurangi dampak banjir di wilayah Petogogan yang kerap banjir apabila hujan tiba.

Selain petogogan, mantan Walikota Solo ini mengatakan waduk Brigif juga memberikan dampak positif bagi wilayah lain seperti Mampang, kawasan Walikota Jakarta Selatan dan Bendungan Ilir.

"Karena ini akan mengurangi aliran air (debit air) di kali krukut," kata Jokowi.

Jokowi menambahkan, waduk Brigif ini ditargetkan selesai dalam waktu 7 bulan kedepan. Rencananya, waduk ini akan dibangun seluas 10,3 hektar dengan kedalaman hampir sama dengan waduk-waduk lainnya, yakni 3 sampai 4 meter

KATEGORI