Soal Cawapres Jokowi, PDIP Pecah antara Mahfud MD atau Puan Maharani
Oleh : Ninoy N Karundeng
PDIP dan Jokowi mengalami dilema terkait cawapres pendampingnya. Bahkan tampak perpecahan di dalam tubuh PDIP karena adanya faksi KNPI yang bermain di dalam PDIP. Faksi KNPI menjadi titik lemah PDIP yang bahkan pada pileg lalu mampu memengaruhi merosotnya suara PDIP dan menyalahkan Jokowi sebagai biang keladi. Kini pertentangan antar faksi kembali terjadi terkait Puan Maharani yang tetap ingin didorong menjadi cawapres PDIP mendampingi Jokowi.
Sebenarnya, nama-nama yang beredar seperti Mahfud MD, Jusuf Kalla, Abraham Samad, Ryamizard Ryacudu, dan bahkan Puan Maharani baru sebatas keinginan dan wacana Jokowi dan PDIP-NasDem. Pembicaraan terkait koalisi dengan PKB pun baru sebatas wacana. Perbedaan internal PKB terkait apakah mengusung Mahfud MD atau Muhaimin Iskandar menjadi topik paling krusial yang menjurus pada kebimbangan menetapkan mitra koalisi baik untuk PKB maupun PDIP. Berikut pertimbangan yang menjadi pangkal dilemma bagi Jokowi dalam menentukan cawapres.
Mahfud MD yang diusung oleh PKB diyakini memberikan kekuatan bagi Jokowi karena pendukung Mahfud MD lintas partai dan didukung penuh oleh warga nahdliyin. Mahfud MD berpotensi mendulang suara. Faktor PKB diyakini menjadi penentu kemengangan Jokowi yang elektabilitasnya tetap tinggi. Mahfud MD berintegritas tinggi dan memahami hukum dengan sangat baik.
Secara efektif Mahfud MD akan menjadi pendongkrak suara bagi Jokowi seperti yang diinginkan oleh elite PDIP yang terpecah. Dalam lingkaran PDIP ada keinginan untuk mencawapreskan Puan Maharani sebagai bentuk pengkhianatan dan pemecah-belah PDIP agar Jokowi gagal. Faksi dalam PDIP yakni faksi mantan KNPI selalu membuat gaduh yang berujung pada ketidaknyamanan dan penggembosan suara pemilih.
Pencawapresan Puan Maharani adalah upaya penjerumusan PDIP dan Jokowi agar kalah dalam pilpres. Salah satu hasil kerja faksi di PDIP adalah terpecahnya suara PDIP yang banyak golput akibat dualisme dukungan karena ada yang mendukung Mega meskipun pencapresan Jokowi telah diumumkan. Faksi ini terbukti menggerus suara PDIP.
Kelompok ini juga menghembuskan pencawapresan Ryamizard Ryacucu sebagai cawapres. Pencawapresan Ryamizard Ryacudu justru tak akan memberikan manfaat apapun bagi PDIP dan Jokowi. Jenderal ini tak akan mampu memberikan efek penarik suara seperti kekuatan Mahfud MD atau pun bahkan Jusuf Kalla dan Abraham Samad. Justru Ryamizard Ryacudu akan menjadi titik lemah dan mengurangi tingkat kepemilihan Jokowi dan dipastikan akan gagal menjadi RI 1 jika mengusung cawapres Ryamizard Ryacudu - bahkan jika niatnya hanya menyeimbangi Prabowo sebagai militer.
Bagaiamana dengan Abraham Samad? Abraham Samad sebagai Ketua KPK seorang professional sangat berintegritas. Namun, Abraham Samad tak memiliki kekuatan penarik suara seperti Mahfud MD. Abraham Samad dikenal di lingkungan akademisi dan rakyat di pedesaan yang kurang melek informasi dan taklid kepada para kiai tak begitu mengenal sosok Abraham Samad. Jadi Abraham Samad secara ideal sangat bagus bagi dukungan untuk pemberantasan korupsi. Selain itu dia tokoh muda yang luar biasa.
Dengan kampanye yang benar diyakini pasangan Jokowi-Samad akan menjadi pasangan yang kuat - meskipun perhitungannya jelas Abraham Samad tidak semenarik Mahfud MD dalam menarik massa tradisional warga Nahdliyin.
Jadi, PDIP mengalami dilema dalam menentukan cawapres antara memaksakan Puan Maharani, mengusung Mahfud MD atau merekrut Abraham Samad. Perpecahan faksi internal PDIP yang menjerumuskan Puan Maharani dan Ryamizard Ryacudu tetap berlangsung yang dapat dipastikan akan membuat Jokowi gagal sebagai RI 1. Padahal tingkat keterpilihan pasangan Jokowi-Mahfud MD sangat besar, bahkan jauh di atas Jokowi-Abraham Samad.
Salam bahagia ala saya.
http://politik.kompasiana.com/2014/04/22/soal-cawapres-jokowi-pdip-pecah-antara-mahfud-md-atau-puan-maharani-650865.html