Bahaya Berbohong Atas Nama Nabi
Posted on November 24, 2013 by taman pecinta al quran
Standard
Oleh: Ust. Rusli Evendi (dalam khutbah beliau di Masjid Darul Muttaqin, Jonggol)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan derajat ketaqwaan kita dengan cara senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan tindakan kita, karena setiap kata yang keluar dali lisan kita akan dimintai pertanggungjawabannya nanti di pengadilan akherat. Hendaklah kita selalu ingat bahwa kita senantiasa dalam pengawasan Allah, segala yang kita lakukan tercatat secara detail, dan Allah tidak pernah lupa.
Allah berfirman :
يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
“Hari ketika Allah membangkitkan mereka semua lalu mengabarkan kepada mereka apa-apa yang telahmereka kerjakan, Allah menghitungnya sedangkan mereka melupakannya. Dan Allah maha menyaksikan segala sesuatu.” (Q.S. Al-Mujadalah: 6)
Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa berkata dan berbuat jujur, sertra menjauhi perbuatan curang dan perkataan dusta atau bohong, karena berkata dusta merupakan dosa besar. Rasulullah SAW bersabda:
وإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار وإن الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا
“Dan sesungguhnya perkataan dusta itu mengarah kepada keburukan, dan sesungguhnya keburukan itu mengarah kepada neraka, dan sesungguhnya seseorang berdusta hingga tertulis di sisi Allah sebagai pendusta”. (H.R. Bukhori: 5743)
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah,
Berbohong atau berkata dusta bukanlah sifat seorang mukmin sebagaimana disebutkan dalam hadist:
عن صفوان بن سليم أنه قال :قيل لرسول الله -صلى الله عليه و سلم-: أيكون المؤمن جبانا؟ فقال: نعم, فقيل له: أيكون المؤمن بخيلا؟ فقال: نعم, فقيل له: أيكون المؤمن كذابا؟ فقال: لا
Dari Shofwan bin Salim, dia berkata: Rasulullah SAW ditanya,”Mungkinkah seorang mukmin itu pengecut?” Beliau bersabda,”Ya.” Maka dikatakan kepada beliau,”Apakah mungkin seorang mukmin itu pelit?” Beliau bersabda,”Ya.” Maka dikatakan kepada beliau,”Mungkinkah seorang mukmin itu pembohong?” Beliau bersabda,”Tidak.”
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda:
« آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ »
“Ciri-ciri orang munafiq itu tiga: Kalau berbicara, dia berdusta, kalau berjanji, dia ingkari, kalau dipercaya, dia berkhianat.” (H.R. Bukhori:33 , dan Muslim: 220)
Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Diantara perkataan dusta yang paling besar dosanya adalah berdusta atas nama Nabi, mengatakan bahwa Nabi bersabda begini dan begitu padahal Nabi tidak pernah bersabda demikian, mengatakan bahwa Nabi melakukan ini dan itu padahal Nabi tidak pernah melakukannya. Rasulullah SAW bersabda:
إن كذبا علي ليس ككذب على أحد, من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار
“Sesungguhnya berbohong atas namaku tidak seperti berbohong atas nama orang lain, barang siapa berbohong atas namaku, maka hendaknya ia mengambil tempat duduknya di neraka”. (H.R. Bukhori: 1229)
Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:
من يقل علي ما لم أقل فليتبوأ مقعده من النار
“Barang siapa berkata dengan mengatasnamakan aku suatu perkataan yang belum pernah aku katakan, maka hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.” (H.R. Bukhori: 109)
Oleh karena itu, salah seorang ulama di kalangan sahabat Nabi, ‘Abdullah ibnu ‘Umar -radhiyallaahu ‘anhuma- berkata: “Orang-orang mengklaim bahwa Rasulullah SAW bersabda,” Orang-orang Yaman bertalbiyah dari Yalamlam”, sedangkan aku tidak yakin bahwa ini dari Rasulullah”. (riwayat Bukhori: 133)
Ikhwani fiddin ‘azzakumullah,
Dari hadist-hadist tersebut, dapat disimpulkan bahwa diantara tanda-tanda ketaqwaan seseorang adalah senantiasa berhati-hati dalam berucap, terutama dalam masalah-masalah yang berkenaan dengan syari’at Allah. Lisannya tidak mendahului ilmunya, tidak mengklaim bahwa suatu amalan termasuk syari’at Islam, kecuali jika ia telah tahu pasti bahwa amalan tersebut memang disyari’atkan, dan tidak mengatakan suatu amalan termasuk sunnah Rasul kecuali setelah memastikan bahwa Rasulullah mencontohkannya dan menyuruh umatnya untuk melakukannya.
Beginilah seharusnya seorang muslim beragama, teliti dan tidak sembarangan dalam segala hal, terlebih dalam mengambil agama. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh para ulama sholeh terdahulu seperti disebutkan oleh Imam Muslim dalam kitab hadistnya, Shohih Muslim dari Ibnu Sirin, beliau berkata:
لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوا سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ
”Orang-orang terdahulu jika mendengar kabar dari seseorang, mereka berkata,”Dari siapakah kamu mendapatkan berita ini?” maka dilihat, jika dari Ahlus Sunnah, maka perkataannya diterima, tapi jika dari ahlil bida’, maka perkataannya tidak diambil.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sikap kehati-hatian inilah yang dicontohkan para ulama, dan ini sesuai dengan firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang yang fasik dengan membawa suatu kabar, maka telitilah agar kalian tidak menhakimi suatu kaum dengan ketiadaan pengetahuan sehingga kalian menjadi orang-orang yang menyesal atas apa yang kalian lakukan.” (Q.S. Al-Hujurat: 6)
Rasulullah SAW bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِع
“Cukuplah bagi seseorang dikatakan berdusta dangan memperbincangkan setiap apa yang ia dengar.” (H.R. Muslim: 7)
Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, selayaknya kita tidak menyebarkan suatu kabar kecuali setelah tahu persis bahwa kabar itu adalah benar.
نسأل الله أن يجعلنا من المؤمنين المتقين
http://tamanpecintaalquran.wordpress.com/2013/11/24/bahaya-berbohong-atas-nama-nabi/